Jumat, 22 April 2016

UBER / TAKSI KONVENSIONAL ??



Apa sih salah UBER Taxi??
Kenapa UBER dan TAKSI KONVENSIONAL bisa menyebabkan kekisruhan??
Kenapa orang lebih memilih UBER??
Apakah kita (Masyarakat Indonesia) menolak kemajuan teknologi??


Alasan Menaiki UBER.

1 Naik Taksi Uber Jakarta Lebih Murah

Argo Uber dimulai dari Rp 3ribu. Taksi biasa mulai dari Rp 7,500 saat buka pintu.
Tarif per kilometer dan tarif waktu taksi biasa juga lebih mahal dibandingkan Uber.
Alhasil, pengalaman saya, harga menggunakan Uber bisa 30 sd 40 persen lebih murah dibandingkan taksi biasa.
Contohnya, dari stasiun kereta ke rumah saya, naik Uber menghabiskan biaya Rp 50 ribu sedangkan taksi biasa biayanya 70 rb.

2 Bayar Pakai Kartu Kredit, Tidak Ribet Kembalian

Pembayaran di Uber adalah cashless.
Argo ditagihkan langsung ke kartu kredit. Penumpang tidak perlu bayar tunai.
Ini memecahkan satu masalah yang kerap saya hadapi saat naik taksi. Tidak adanya kembalian atau uang receh karena pembayaran yang harus cash.
Saat tidak ada kembalian uang, saya either harus menunggu supir mencari kembalian or merelakan uang lebih (tanpa kembalian) untuk si supir jika waktunya terburu -buru.
Masalah ini hilang dengan pembayaran via credit card yang digunakan di Uber.

3 Aman

Tidak adanya uang, karena pembayaran yang menggunakan kartu kredit, membuat tingkat keamanan di Uber relatif terjamin.
Tidak hanya buat penumpang, pembayaran cashless ini juga melindungi pengemudi. Siapa perampok yang ingin ambil risiko jika dia tahu tidak ada uang di mobil.
Saya juga baru dengar dari si supir Uber yang saya tumpangi adalah adanya perlindungan asuransi untuk pengemudi dan penumpang. Meskipun tidak mau terjadi sesuatu dalam perjalanan, proteksi ini memberikan rasa aman.

4 Kualitas Mobil Lebih Nyaman

Saya merasakan kualitas mobil taksi Uber lebih nyaman dari taksi biasa.
Di Uber, mobil yang saya pernah tumpangi adalah Avanza, Xenia, Innova dan Yarris. Mobil – mobil tipe ini terasa lebih enak dinaiki dibandingkan sedan taksi.

5 Promonya Lumayan

Promonya lumayan nendang.
Karena menggunakan kode promo dari seorang teman, saya bisa mendapatkan diskon tarif sampai Rp 150rb naik taksi Uber.

Betapa untungnya bukan menggunakan UBER bukan?

Meskipun banyak keuntungannya,menurut beberapa orang UBER tetap menyalah gunakan aturan yang diberlakukan untuk angkutan umum.Berikut kesalahan UBER sebagai angkutan umum.

Pada intinya, kesalahan utama Taksi Uber adalah keengganan mereka untuk memenuhi syarat-syarat layaknya layanan taksi biasa. Salah satu contohnya adalah, Taksi Uber tidak rela mengganti plat nomor kendaraan-kendaraan mereka dengan plat kuning, seperti layaknya kendaraan umum yang lain. Tak hanya di Indonesia, Taksi Uber juga menerapkan kebijakan yang sama di seluruh dunia, karena itu masalah serupa pun juga mereka alami di negara-negara lain, termasuk di negara asal mereka, Amerika Serikat.

Solusi yang Bisa Dilakukan Uber Agar Bisa Beroperasi

Sejauh ini, Uber baru beroperasi di wilayah Jakarta dan sekitarnya, serta baru memulai perekrutan pengemudi untuk bisa beroperasi di Bali. Mereka terlihat serius untuk bisa beroperasi di Indonesia, karena itu mereka harus menemukan solusi terbaik agar tidak lagi terjadi perselisihan dengan pemerintah-pemerintah lokal di Indonesia.

Cara pertama yang bisa mereka lakukan adalah dengan menerangkan dengan jelas konsep bisnis mereka kepada pemerintah setempat. Isu ini sudah berhembus sejak tahun 2014 yang lalu, maka seharusnya banyak sekali kesempatan di mana Uber dan Pemerintah bisa berdiskusi demi mencari solusi terbaik.
Sebelumnya, layanan GrabCar, yang merupakan salah satu layanan dari aplikasi GrabTaxi, sudah berhasil mengantungi izin dari pemerintah Bali. Padahal GrabCar ini menerapkan cara yang sama dengan yang dilakukan Uber, koq bisa? Menurut Kiki Rizki, Head of Marketing GrabTaxi, mereka bisa mendapatkan izin karena menggunakan sistem point-to-point, alias pengguna harus menentukan terlebih dahulu lokasi awal dan lokasi tujuan sebelum bertransaksi. Sistem ini merupakan cara yang biasa digunakan oleh perusahaan penyewaan mobil, dan merupakan sistem yang legal. Sistem lain yang bisa digunakan adalah sistem penyewaan dengan tarif yang dihitung berdasarkan waktu penyewaan mobil. Dua alternatif sistem di atas bisa digunakan oleh Uber untuk mengganti sistem argo (biaya perjalanan mulai dihitung ketika penumpang masuk, dan berhenti dihitung ketika penumpang keluar) yang selama ini mereka terapkan.

Cara kedua yang bisa dilakukan oleh Uber adalah dengan mengadopsi layanan lain yang diberikan oleh GrabTaxi, yaitu bekerjasama dengan perusahaan taksi lokal agar pengguna bisa memesannya dengan aplikasi smartphone secara online. Namun untuk cara kedua ini, Uber harus rela mengganti plat nomor kendaraan mereka dengan plat kuning, layaknya taksi-taksi biasa.

Menurut saya dalam masalah yang ada diatas,tidak ada yang salah.Disatu sisi kita perlu kemajuan teknologi,disatu sisi juga sifat konsumtif manusia Indonesia yang ingin lebih murah.Masyarakat Indonesia sebenarnya tidak menolak kemajuan teknologi,justru mendukung kemajuan teknologi apa lagi itu dalah hal positif.Dalam hal diatas tinggal UBER apakah mau mengikuti tata peraturan seperti angkutan umum?,atau tetap kekeh dengan pendiriannya bahwa UBER bukan angkutan umum,namun hanya jasa penyewaan/rental.Bukan lebih kemenolak teknologi namun kecemburuan sosial yang membuat ini semua terjadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar